10 Paradoxes of creative people by Mihaly

10 Paradoxes of Creative People

Creative people have a great deal of physical energy, but they’re also often quite and at rest.

Yah sangat setuju dengan pendapat ini. Dimana-mana orang kreatif itu pasti orang yang aktif, tidak bisa diam, semua peluang yang datang kepadanya pasti akan diambil. Bahkan seandainya dia bisa meminta waktu lebih dalam 1 hari, menjadi 25 jam, pasti dia akan lakukan. Bisa diandaikan seperti kutu loncat. Yah,,, walaupun begitu, jangan sangka seorang yang kreatif selalu beraksi seperti itu, orang kreatif juga butuh ketenangan tentunya. Semua orang, di dunia ini pasti butuh ketenangan, ntah itu ketenangan dari dalam diri atau suasana yang tenang. Ketenangan bagi orang kreatif adalah saat dia mencoba meluapkan ide-ide yang pernah terlintas di pikirannya.

Creative people tend to be smart yet naïve at the same time

Pernyataan ini tentu benar sekali. Seorang yang kreatif tidak boleh terlalu ambisi dengan ide kreatif yang dimilikinya namun tidak bisa di implementasikan pada kehidupan nyata. Itu sama saja dia merupakan orang yang naïf, tidak bisa melihat kenyataan. Orang kreatif harus bisa melihat sinkronisasi antara imajinasinya dan kenyataan yang ada.

Creative people combine playfulness and discipline, or responsibility and irresponsibility

Orang-orang kreatif memang diciptakan untuk membuat segala hal yang bertentangan di dunia ini menjadi hal yang saling berguna satu dan yang lainnya. Yah bisa dikatakan mereka harus bisa menyatukan hal yang berantakan dengan hal yang disiplin, sehingga dapat diciptakan sesuatu yang baru yang dapat digunakan dalam dua kondisi tersebut, dapat digunakan bagi “si berantakan” dan “si teratur”. Orang kreatif harus jeli melihat hal-hal yang bertentangan ini. Karena itu benar sekali sorang kreatif harus bisa menggabungkan semua hal yang bertentangan.

Creative people alternate between imagination and fantasy, and a rooted sense of reality.

Hasil karya setiap orang kreatif itu berangkat dari imajinasi dan fantasi yang di ciptakannya. Orang yang kreatif adalah orang yang bisa membuat imajinasinya tersebut menjadi nyata. Jika imajinasinya hanya merupakan omongan dan khayalan semata dan dia tidak bisa merealisasikan dalam kehidupan dunia ini, tentu saja dia tidak dapat dikatakan seorang yang kreatif. Yah tentunya benar kunci dari seorang yang kreatif memang benar “from imagination to the real thing”.

Creative people tend to be both extroverted and introverted.

Tentu pendapat tersebut benar, karena orang kreatif memiliki kebiasaan yang aneh biasanya. Ada yang imajinasi muncul saat dia sedang tertawa bersama para teman di dalam sebuah pesta dan ada yang imajinasinya muncul saat dia sedang diam dan tenang di pinggir pantai atau diperkebunan. Banyak hal dan tempat favorite bagi orang-orang kreatif, tempat tersebut adalah tempat biasa dia meluapkan isi pikirannya. Namun bukan berati orang kreatif yang ekstrovert tidak memiliki sisi introvert, seperti penulis misalnya. Mungkin dia menemukan ide cerita yang menarik saat dia sedang berpesta bersama temannya, namun disaat dia ingin meluangkan idenya di sebuah kertas, dia langsung menyendiri dan menemukan tempat tenang untuk otaknya berkreasi lebih. Begitu juga sebaliknya seorang kreatif yang introvert, juga membutuhkan waktu-waktu untuk dirinya mengeluarkan apa yang dirasakannya, sehingga dia menemukan keseimbangan di dalam otaknya.

Creative people are humble and proud at the same time.

Sangat setuju dengan pernyataan ini. Orang-orang yang kreatif tentunya juga sama dengan kita, bila kita menemukan sesuatu yang baru dan belum dimiliki oleh orang lain tentunya ada rasa bangga tersendiri di dalam hati kita namun, rasa bangga tersebut tidak mungkin kita keluarkan di depan orang banyak. Saat dipuji orang tentang sesuatu prestasi kita pastinya kita akan rendah hati di depan orang tersebut, bukan malah berbalik menyombongkan diri. Begitu juga orang kreatif. Orang kreatif biasanya tidak ingin dinyatakan secara langsung hasil-hasil ciptaannya, karena dia merasa rendah hati. Namun di dalam hatinya pasti ada rasa bangga dan puas dari hasilnya tersebut.

Creative people, to an extent, escape rigid gender role stereotyping.

Dalam dunia kreatif tidak ada persaingan gender. Bahkan mungkin mereka dianggap rata. Karena didalam industri kreatif yang dipake bukanlah kekuatan mereka tetapi ide kreatif yang mereka hasilkan dari imajinasi mereka. Contoh saja designer dunia, banyak designer baju wanita dengan merk terkenal yang perancang justru bukan wanita akan tetapi seorang pria. Dari sini dilihat, walaupun dia seorang pria, asalkan ide kreatifnya dapat di ungkapkan dengan baik, pasti dia akan tetap diterima di dalam industri kreatif.

Creative people are both rebellious and conservative

Seorang yang kreatif tentu merupakan seorang yang rebellious, dia tidak akan begitu saja menerima hal apapun yang diperintahkan, tanpa dia harus menimbang-nimbang terlebih dahulu, dia cenderung idealis, namun dia juga konservatif karena dia akan menimbang ide kreatifnya dengan keadaan yang ada sekarang.

Creative people are very passionate about their work, yet they can be extremely objective about it as well.

Pernyataan kesembilan ini tidak salah sama sekali, karena kreatifitas seseorang itu biasanya lahir dari hal yang disenanginya. Karena tidak akan mungkin bila dia tidk menyenangi suatu hal dia akan merelakan waktunya habis untuk hal yang sama sekali tidak penting menurut dirinya. Orang kreatif juga biasanya bisa memiliki energi lenih mengerjakan sesuatu apabila sesuatu itu menyenangkan untuknya. Dengan mengerjakan sesuatu hal yang kita senangi maka hal itu akan menjadi prioritas dalm hidup kita dan tidak menjadi beban sama sekali. Namun sebaliknya apabila orang kreatif disurh mengerjakan hal yang bertentangan dengan hal yang disukainya, maka hati secara langsung akan menolak, dan apabila dipaksa, hasil yang di dapat pasti tidak akan sememuaskan dari yang yang biasanya.

Most creative people’s openness and sensitivity often exposes them to suffering and pain, yet also to a great deal of enjoyment.

Pernyataan ini benar juga, karena setiap keterbukaan yang kita berikan kepada orang lain belum tentu selamanya mendatangkan kesenangan, namun terkadang juga memberikan sakit yang luar biasa sebagai balasannya. Tentunya ini balik lagi kepada pribadi setiap orang untuk menanggapinya, apakah dia harus berlarut dari kesakitan yang dia dapatkan atau justru dia akan bangkit dengan semangat baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: